Kongregasi kami Religious of the Virgin Mary (RVM) adalah sebuah lembaga apostolis yang diakui oleh Paus, didirikan oleh Venerable Ignacia del Espiritu Santo pada tahun 1684 di Filipina dengan Semangat Bunda Maria “Hamba Hina Tuhan, yang hidup mencintai, dan bekerja demi Kristus dan Gereja-Nya. Motto “Menuju Yesus Bersama Maria”.
Kongregasi kami berkarya di bidang Pendidikan, Retret, Pastoral, Sosial, Asrama dan Karya Khusus dalam pelayanan sesuai dengan kebutuhan gereja lokal. Rumah induk berada di Manila, Filipina dan berkarya di beberapa negara yaitu: US-Canada, Indonesia, Ghana-Afrika Barat, Italia, Swedia, Taiwan, dan Timor Leste.
Pendiri Kongregasi RVM
Venerable Ignacia del Espiritu Santo adalah Pendiri Beaterio dela Compania de Jesus, yang sekarang dikenal sebagai Kongregasi Religious of the Virgin Mary (RVM), kongregasi wanita religius Filipina pertama.
Ignacia del Espiritu Santo adalah anak pertama dari Jusepe Iuco, seorang Tionghoa dan Maria Jeronima, wanita pribumi. Pada tanggal 4 Maret tahun 1663 dia dibaptis di Gereja Holy Kings di Parian. Ignacia dibesarkan di Binondo, di mana dia menerima pengajaran dalam iman Katolik.
Penulis biografinya, Pedro Murillo Velarde, SJ mengatakan bahwa Ignacia del Espiritu Santo berusia 21 tahun saat ia memulai komunitas Beaterio pada tahun 1684 setelah ia menjalani latihan rohani Sto. Ignatius de Loyola dibawah bimbingan Pater Paul Klein, SJ seorang imam Yesuit dari Bohemia. Dalam bimbingan retret Ignacia terinspirasi dan mengambil keputusan untuk "senantiasa melayani Allah yang Maha Agung” dan "hidup dari hasil keringat sendiri." ia mulai menjalani kehidupan doanya yang menarik perhatian para wanita muda lainnya yang juga merasa terpanggil untuk menjalani kehidupan religius.
Mempertimbangkan pertumbuhan Komunitas Beaterio, Muder Ignacia menulis konstitusi, yang telah diizinkan oleh otoritas keuskupan pada awal tahun 1726 yang hari ini genap 300 tahun dan akhirnya disetujui pada tahun 1732. Pada tahun 1906 komunitas beaterio ditingkatkan menjadi sebuah Institusi dengan hak keuskupan. Pada tahun 1948 tarekat memperoleh persetujuan kepausan dan diberi nama Congregation of the Religious of the Virgin Mary(RVM).
Pada tahun 1737 ia mengundurkan diri sebagai pimpinan "Beaterio" dan menjadi seorang suster yang rendah hati tunduk pada pemimpin baru. Dia meninggal pada tanggal 10 September 1748 pada usia delapan puluh lima (85) tahun. Tercatat bahwa dia meninggal dengan berlutut setelah menerima Komuni Kudus di Gereja St. Ignatius di Manila dimana dia dimakamkan.
Pada tahun 2007, Paus Benediktus XVI mendeklarasikan Muder Ignacia del Espiritu Santo, Pendiri Kongregasi Religious of the Virgin Mary, memiliki kebajikan teologis: Iman, Harapan dan Cinta Kasih kepada Allah dan sesama, serta kebajikan-kebajikan utama yakni Kebijaksanaan, Keadilan, Kelemahlembutan dan Keberanian (Benedictus XVI, Papam Sanctitam Decretum Super Virtutibus, datum 6 Juli 2007)
Sejarah Singkat Misi RVM di Indonesia
Tanggapan Konggregasi terhadap Misi Luar Negeri di Indonesia penuh dengan tantangan namun rahmat berkelimpahan. Konggregasi RVM berada di Indonesia atas undangan dari Bapak Uskup Mgr. Antonius Thijssen, SVD Uskup Denpasar. Kehadiran para suster RVM di Indonesia tidak terlepas dari peran Pater Pancratius Mariatma, SVD dan Pater Gabriel Atok, SVD yang pada waktu itu sedang belajar di Manila dan sering memimpin Misa di kapela Maria Assumpta Mother House N. Domingo City, Cubao, Manila.
Abianbase yang berada di pulau Bali, dikenang sebagai misi pertama RVM di Indonesia. Muder Maria Josefina Yamzon, RVM, Pemimpin Umum Konggregasi, menghantar S. Maria Auxilium Saile, RVM dan S. Maria Luz Segundo, RVM ke Denpasar, Bali pada tanggal 12 Januari tahun 1977 yang akan merayakan usia emas pada 12 Januari 2027. Sambil menunggu pembangunan biara di Abianbase para suster tinggal bersama komunitas suster-suster OSF di Denpasar. Para suster diminta untuk mengajar bahasa Inggris di Seminari Tuka dan SMU Tangeb, membantu di kantor sekretariat keuskupan Denpasar dan bekerja di klinik Tangeb milik Keuskupan.
Pada tanggal 19 Oktober 1977, S. Maria Lourdes Tan, RVM, S. Maria Felisa Dalwatan, RVM dan S. Maria Lydia Tayag, RVM tiba di Denpasar. Para Suster yang baru tiba ini melanjutkan perjalanan untuk membuka sayap misi RVM ke tanah Timor. Pada tanggal 27 Oktober 1977 para suster tiba di Atambua dan menginap di biara SSpS Atambua sambil menunggu keputusan Msgr. Theodorus Sulama, SVD yang waktu itu sedang mengikuti sidang MAWI di Jakarta. Setibanya dari Jakarta, beliau menunjukkan Paroki Seon sebagai tempat untuk para suster RVM berkarya. Pada tanggal 24 Desember para Suster tiba di Paroki Seon. Pater Meulendijk SVD sebagai pastor paroki waktu itu, menerima para Suster dan dibukalah komunitas pertama di Seon, keuskupan Atambua. Suster-suster yang diutus adalah S. Maria Lourdes Tan, RVM, S. Maria Auxilium Saile, RVM dan S. Maria Felisa Dalwatan, RVM.. Di Seon para Suster mengajar di Sekolah Menengah Pertama milik paroki dan membuka kursus ketrampilan bagi kaum perempuan yang putus sekolah dan klinik gigi. Misi di Seon, berlangsung hingga tahun 1983.
Kongregasi mengirim tambahan misionaris ke Indonesia, yakni S. Maria Rosalinda Llarenas, RVM. Beliau tiba di Denpasar pada tanggal 6 Februari 1978 dan bergabung di komunitas Abianbase untuk membantu di Klinik Tangeb. Beliau masih berada di tengah-tengah kita sekarang.
Pada tanggal 30 Juni tahun 1984 misi RVM di Seon berpindah ke Niki-Niki dan para Suster memulai misi di Keuskupan Agung Kupang. Misi pelayanan di Niki-Niki mencakup pendidikan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) milik paroki, mengelola asrama, pelayanan pastoral, dan klinik gigi.
Pada awal Maret tahun 1985, S. Ma. Pureza Romano, RVM dan S. Ma. Mauricia Villarmil, RVM dihantar oleh Muder Ma. Josefina Yamzon, RVM ke Kupang. Kedua suster ini memperoleh visa untuk mengajar sebagai dosen di UNIKA Widya Mandira Kupang. Seiring bertambahnya panggilan mendorong Muder Maria Josefina Yamzon untuk membuka sebuah rumah pembinaan di Indonesia. Kematian Muder Josefina pada tahun 1985 meninggalkan beban tanggungjawab ke atas pundak Muder Maria Assumpta David untuk mewujud-nyatakan impian tersebut. Mgr. Gregorius Monteiro, SVD menerima permintaan sekaligus menawarkan sebidang tanah gereja yang masih kosong di Walikota untuk membangun rumah pembinaan. Sr. Ma. Mauricia Tapang, RVM membuat gambar denah rumah dan Bruder Albert Errasimy, SVD yang menangani proses pembangunan. Sr. Ma. Pureza Romano, RVM membina para calon sambil mengajar di UNIKA. Pada tahun 1991 pengikraran Kaul Pertama diadakan di Paroki Santa Maria Assumpta untuk pertama kalinya. Belas kasih Tuhan terus melimpah dengan memberikan rahmat panggilan.
Pada tahun 1999, Bapak Uskup Atambua, Mgr. Anton Pain Ratu, SVD meminta Kongregasi RVM untuk kembali berkarya di keuskupan Atambua, tepatnya di paroki Kada dengan misi pelayanan di paroki, sekolah dan klinik. Kemudian pada tahun 2002, atas permintaan Bapak Uskup agar para Suster RVM mengajar di Seminari Menengah Lalian, Nenuk.
Pada tahun 2001 atas undangan Bapak Uskup Ende, Mgr. Abdon Longinus da Cunha sebuah misi dibuka di pulau Flores yaitu di Nangapanda, Ende, Keuskupan Agung Ende dan pada tahun 2007 sebuah misi dibuka di Wangka, kevikepan Bajawa.
Pada tahun 2014, RVM diundang oleh Bapak Uskup Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaaatmaka, M.S.F untuk memperluas pelayanannya dengan membuka misi di Palurejo keuskupan Palangka Raya.
Semangat misioner para Suster terwujud dalam kesiapsediaan dalam setiap misi yang dipercayakan sesuai dengan semangat dan kharisma Kongregasi dan berusaha untuk menjawabi kebutuhan gereja lokal baik di bidang pastoral, pendidikan maupun karya lainnya.